RSS Ipnu ippnubojong

Kamis, 28 November 2013

13 Ranting di Kecamatan Bojong adakan MAKESTA serentak

Menjelang datangnya hari libur semester 2 ini merupakan waktu yang sangat berharga dan tepat sekali untuk pelajar dan remaja IPNU IPPNU di kecamatan Bojong untuk mengadakan kegiatan positif yang sangat bermanfaat bagi generasi NU di kecamatan bojong.

Adalah MAKESTA, atau Masa Kesetiaan Anggota yang merupakan pengkaderan dasar di IPNU IPPNU, dalam hal ini 13 ranting dikecamatan bojong akan mengadakan kegiatan tersebut yang dibungkus dalam sebuah kegiatan MAKESTA Gabungan Selatan dan MAKESTA Gabungan Utara. 
pembagian MAKESTA Gabungan disesuaikan dengan kelompok yang mencakup Wilayah  yang disesuaikan dengan kemampuan pelajar. MAKESTA Gabungan SELATAN diselengggarakan oleh gabungan 8 Pimpinan Ranting IPNU IPPNU yaitu Menjangan, Bojongmin
ggir, Bojongwetan, Rejosari, Ketitangkidul, Ketitanglor, Bojonglor, Wiroditan. sedangkan untuk MAKESTA gabungan Utara diselengggarakan oleh gabungan 5 Pimpinan Ranting IPNU IPPNU yaitu Babalankidul, Babalanlor, Sembungjambu, Karangsari dan Jajarwayang. 
kegiatan ini direncanakan akan dilaksanakan secara bersamaan yaitu pada tanggal 27-29 Desember 2013 mendatang dengan tema “Menjalin silaturahim dan membentuk generasi NU yang berwawasan Ahlusunnah waljamaah ”  . dan bertempat dimasing-masing wilayah IPNU IPPNU. Ketua Umum IPNU (M.Khoirul Aini) mengatakan bahwa kegiatan ini difokuskan diselenggarakan oleh ranting, oleh karena itu melihat potensi ranting belum mampu untuk mengadakannya secara mandiri, maka untuk mensiasati hal tersebut dibentuklah MAKESTA Gabungan harapannya menjadi langkah awal dalam mengadakan event pengkaderan dasar ini. || Admin ||

Rabu, 27 November 2013

KH. Abdul Wahab Hasbullah : “Laskar Perang Berfikir Moderat”

Lahir di Tambakberas, Jombang, pada bulan Maret 1888 M. Ayahanda KH Abdul Wahab Hasbullah adalah Kyai Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas Jombang Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Fatimah. KH Abdul Wahab Hasbullah adalah seorang ulama yang berpandangan modern, da’wah beliau dimulai dengan mendirikan media massa atau surat kabar, yaitu harian umum “Soeara Nahdlatul Oelama” atau Soeara NO dan Berita Nahdlatul Ulama.
Beliau juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. Disamping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.
Kyai. Wahab merupakan bapak Pendiri NU setelah Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Beliau juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.
Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz. Pada perang melawan penjajah Jepang beliau berhasil membebaskan KH. M. Hasyim Asy’ari dari penjara ketika ditahan Jepang. Kyai Wahab juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda. Akhirnya KH. Abdul Wahab Hasbullah dipanggil menghadap ke haribaan-Nya pada Rabu 12 Dzul Qa’dah 1391 H atau 29 Desember 1971 tepat pukul 10.00 WIB, empat hari setelah MUKTAMAR NU ke-25.

Pelopor Kebebasan Berpikir
KH. A. Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan nahdhiyyin. KH. A. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Beliau merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1941.
Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Tetapi berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan permasalahan pelik yang dianggap penting.
Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.
Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, Kyai Abdul Wahab Hasbullah bersama KH. Mas Mansur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah Kyai Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah Kyai Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kyai Abdul Halim, (Leimunding Cirebon), Kyai Alwi Abdul Aziz, Kyai Ma’shum (Lasem) dan Kyai Cholil (Kasingan Rembang).
Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpenting beliau kepada kaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.
Pernah suatu ketika Kyai Wahab didatangi seseorang yang meminta fatwa tentang Qurban yang sebelumnya orang itu datang kepada Kyai Bisri Syansuri. “Bahwa menurut hukum Fiqih berqurban seekor sapi itu pahalanya hanya untuk tujuh orang saja”, terang Kyai Bisri. Akan tetapi Si Fulan yang bertanya tadi berharap anaknya yang masih kecil bisa terakomodir juga. Tentu saja jawaban Kyai Bisri tidak memuaskan baginya, karena anaknya yang kedelapan tidak bisa ikut menikmati pahala Qurban. Kemudian oleh Kyai Wahab dicarikan solusi yang logis bagi Si Fulan tadi. “Untuk anakmu yang kecil tadi belikan seekor kambing untuk dijadikan lompatan ke punggung sapi”, seru kyai Wahab.
Dari sekelumit cerita di atas tadi, kita mengetahui dengan jelas bahwa seni berdakwah di masyarakat itu memerlukan cakrawala pemikiran yang luas dan luwes. Kyai Wahab menggunakan kaidah Ushuliyyah “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh”, Apa yang tidak bisa diharapkan semuanya janganlah ditinggal sama sekali. Di sinilah peranan Ushul Fiqih terasa sangat dominan dari Fiqih sendiri.
Kini, di tengah nuansa keberagamaan masyarakat yang terjebak pada dogmatisme, kita merindukan hadirnya kembali sosok Kyai Wahab Hasbullah dengan Tashwirul Afkar-nya yang telah mencerahkan dan mencerdaskan umat dengan prinsip kebebasan berpikirnya.

Meretas Jalan Pembaruan : " NU, antara AMBIGUITAS dan REVIVALISASI "

Antara politik dan NU dengan nilai-nilai kepercayaan dan pemberdayaannya umat, merupakan sesuatu tarik-menarik, karena NU yang berdasarkan nafas keislaman, menghidupkan kembali pola-pola sunnah yang dilakukan oleh Rosulullah untuk membumikan nilai-nilai ajaran kepada segenap umat islam. Sedangkan politik itu sendiri merupakan pola kerja penguasa terhadap rakyatnya. Dua pola kinerja yang saling melengkapi ( internal & eksternal ) sehingga menjadi kinerja organ yang terpisah, ketika politik memainkan perluasan islam di seantera bumi islam, maka nilai-nilai keaswajaan memainkan komunitas islam yang bersifat spiritual. Hal ini tidak di sadari oleh warga Nahdiyyin, karena melalui politik hanya praktisnya saja dan imbasnya dalam konteks sejarah politik pengalaman politnya pada masa orde baru.
Politik memainkan andil yang cukup besar dalam perkembangan sebuah negara. Ini memainkan sesuatu yang menyangkut kehidupan orang banyak dalam skala universal. Sedangkan dalam tujuan antara hubungan islam dan politik pada sistem kenegaraan pada masa awal islam, mengungkapkan sejarah sekaligus yang sangat kompleks. Islam adalah sistem kepercayaan di masa agama mempunyai hubungan erat dengan politik. Politik menjadi medan pertahanan di ancaman-ancaman negara-negara adikuasa pada masa awal islam, untuk memperluas ekspansi islam. dengan demikian, dalam realitasnya komunitas islam bersifat spiritual sekaligus temporal “gereja” sekaligus “Negara”.
Pada dasarnya dalam islam tidak ada pemisahan antara agama dan politik. Pada masa awal islam setelah hijrah ke madinah, Nabi membangun satu bentuk negara kota (city state) di madinah yang bersifat ke Tuhanan. Dalam perjalanan sejarah dan bentuk negara semacam itu berkembang konsep yang disebut pemikiran politik islam. Semacam Al-mawududi sebagai negara theo-demokratik, karena ia berdasarkan pada prinsip syuro ( musyawarah ) dengan demikian pada akhir periode abbasiyah, hal-hal esensial dalam teori politik islam terbentuk dan memilih sejumlah tema umum. Allah pemegang kedaulatan (hakiniyah) mutlak dan penguasa semesta, serta pemegang otoritas dalam negara. Melalui sebuah perjanjian inilah didelegasikan kepada manusia sebagai instrumen (khalifah) Allah di muka bumi. Institusi kekhalifahan didasarkan pada wahyu Allah. Maka, kekhalifahan dianggap sebagai sistem organik religion politik yang didominasi hubungan yang sakral dan politik.
Ahlul sunnah wal jamma’ah adalah istilah yang digunakan pertama kali pada masa Abbasiyah. Pada saat itu tern tersebut di adopsi oleh sekelompok umat islam yang mengakui kekhalifahan Abbasiyah yang sekaligus menekankan kesinambungan dengan masa lalu dalam kerangka sunnah sehingga mempresentasikan posisi Jamma’ah sebagai prinsip-prinsip dasarnya. Aswaja secara konseptual (dari bagian lain yang terdiri madzab teologi asyari) tern tersebut merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai ajaran Rosulullah yang dikembangkan oleh khalifah ke empat, berdasarkan tata perilaku Nabi (Hadits) maupun yang bersumber dari Al-Qur’an keduannya menjadi pegangan umat islam di dunia.
Walaupun dalam perkembangannya kelompok ini sangat beragam. Ada yang lebih menitik beratkan pada naqi dan ada juga yang menekankan pada aspek rasional. Walaupun demikian, perbedaan paham aswaja berupaya merangkaikan perbedaan itu dalam satu framework dengan memiliki benang merah yang kuat antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, yaitu nilai-nilai Tasyamuh, tawazun dan tawazush. Selama satu kelompok masih menekankan nilai-nilai yang tidak mencerminkan pola-pola yang sangat ekstrem selama itu pula kelompok tersebut di anggap kelompok aswaja.
Peran seperti itulah yang di mainkan oleh NU sebagai kelompok salah satu Aswaja. Dengan nilai-nilai keislaman yang lentur, relative, universal memainkan porsi integral yaitu politik untuk mengimbangi peran negara. Peran seperti itu terkadang terimbangi bahkan terjadi pemisahan yang menganggap politik dan NU merupakan salah satu yang terdiri sendiri, atau apakah ini semacam jurus politik agar NU bersih dari idiom-idiom, politik ?
Namun jika di telisik lebih lanjut, bahwa dari kinerja NU dari berbagai arah, merupakan jurus ampuh bagi lawan politiknya. NU sebagai umat yang selalu dirumuskan dalam konteks kekinian, karenanya mustahil menghadiri dari publik politik yang menjadi arah pusat perubahan lebih mendalam untuk memainkan  peran jama’ah. Dengan pemberdayaan tersebut NU menyiapkan skill man tangguh untuk berkancah di medan laga. Lagi-lagi NU menggaris bawahi, dia tidak mempunyai politik praktis.
Ini yang menandakan pola kinerja politik NU ketika keterlibatannya dalam komite Hijas, Nilal, Lala anasyumi, dan menjadi partai NU. Disitulah NU mulai menata artikulasi politiknya.
Ketika NU resmi mendeklarasikan diri sebagai organisasi (formal) ke agamaan. Saat itulah NU telah menyentuh tubuh politik yang sesungguhnya. 

|| Siti Puri Handayani "Buletin El-azmi" ||


Keutamaan Sholawat Nariyah

Membaca shalawat nariyah adalah salah satu amalan yang disenangi orang-orang NU, di samping amalan-amalan lain semacam itu. Ada shalawat "thibbil qulub", ada shalawat "tunjina", dan masih banyak lagi. Belum lagi bacaan "hizib" dan "rawatib" yang tak terhitung banyaknya. Semua itu mendorong semangat keagamaan dan cinta kepada Rasulullah SAW sekaligus beribadah.
Salah satu hadits yang sangat populer yang membuat rajin kita membaca shalawat ialah bahwa Rasulullah SAW bersabda: Siapa membaca shalawat untukku, Allah akan membalasnya 10 kebaikan, diampuni 10 dosanya, dan ditambah 10 derajat baginya. Makanya, bagi orang-orang NU,

Selasa, 26 November 2013

PAC IPNU IPPNU Bojong mengikuti Pelatihan Blog

Kedungwuni, 24 Nopember 2013

Pelatihan Pembuatan Website dan Blog dalam kegiatan yang diadakan oleh PC IPNU IPPNU Kab. Pekalongan bertujuan untuk mengoptimalkan ini sawebsite dan blog sebagai sarana pengembangan dan mediar syiar ini disambut antusias oleh seluruh peserta,,,,

Dalam sambutan ketua panitia, menegaskan bahwa pentingnya optimalisasi penggunaan website maupun blog dikalangan remaja sekarang sangat perlu sekali,,, di jaman sekarang ini adanya teknologi internet masih hanya digunakan sebatas chatting, browsing, dll. [Arifin - lembaga pers jurnalistik]




 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls